Wednesday, March 4, 2009

Model Incremental : Hmmmm.....

Pada pertemuan kuliah Software Engineering kali ini, dosen saya mendatangkan pihak ICT kampus untuk bercerita tentang pembuatan CIS kampus.
Beliau bercerita tentang process model yang dipakai selama pembuatan CIS tersebut, dengan menggunakan model incremental.

Selasa, 3 Maret 2009

Process model yang digunakan adalah model incremental.
analysis --> design --> code --> test (Delivery of 1st incremental)
analysis --> design --> code --> test (Delivery of 2nd incremental)
analysis --> design --> code --> test (Delivery of 3rd incremental)

Sebelum dipecah - pecah kedalam delivery tersebut, lebih baik ada gambaran besar dulu apa yang diinginkan atau yang dibutuhkan di dalam aplikasi tesebut secara general.

Biasanya untuk 1 kali incremental, harus menunggu sampai test dulu baru lanjut ke incremental selanjutnya.
Tetapi karena masalah SDM dan waktu, bisa saja setelah analysis dan design, langsung lanjut ke analysis level 2.

Di dalam incremental, kita memilah - milah cakupannya menjadi modul - modul yang lebih kecil. Misalnya bagian home --> modul sendiri, bagian update & delete --> modul sendiri, dst. Intinya harus sama, jangan sampai berubah dalam hal struktur data. Kalau sampai mengubah, maka mulai dari awal lagi. Dan itu harus dipertanyakan ketika analysis dan design. Oleh karena itu, biasanya analysis dan design membutuhkan waktu lebih lama. Untuk menambah atau mengurangi, tidak apa-apa.

Dalam requirement gathering, yang merupakan poin penting adalah prosesnya seperti apa. Dan sesuai dengan disiplin ilmu kita yaitu IT, sedikit banyak kita mengetahui prosesnya.

Dan di dalam dokumen SRS berisi tentang apa yang customer butuhkan dan functionality apa yang bisa kita provide.

=================================================================================================

Untuk membuat incremental, harus dibuat dulu framework nya. Contoh: database nya menggunakan apa, JSP nya bagaimana.

Tiap incremental harus ada core product atau base productnya.

Proses yang ada di incremental itu berupa analysis --> test.
Jika di generic process framework, dari communication --> deployment.

Contoh: di delivery of 1st incremental, membuat login page dari analysis sampai test. Setelah berhasil di TAG dulu yang kemudian menjadi base product dan statusnya menjadi login page v1.0. Apabila ada perubahan, maka statusnya menjadi login page v1.1, dst.

Incremental termasuk di dalam RAD (Rapid Application Development) yang semua prosesnya berdasarkan waktu.

Berdasarkan buku yang saya baca yang berjudul Software Process (oleh Umi Proboyekti, S.Komp, MLIS), RAD menekankan pada siklus pembangunan yang pendek/singkat. RAD mengadopsi model waterfall dan pembangunan dalam waktu singkat dicapai dengan menerapkan component based construction. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini.

Dan berdasarkan http://ega.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/3254/PERANCANGAN_BAB+6.doc (oleh Ida Ayu Yulie Primashanti), Model incremental (Incremental waterfall model) merupakan perbaikan dari model waterfall dan sebagai standar pendekatan top-down. Ide dasar dari model ini adalah membangun software secara meningkat (increment) berdasarkan kemampuan fungsional. Model incremental ini diaplikasikan pada sistem pakar dengan penambahan rules yang mengakibatkan bertambahnya kemampuan fungsional sistem. Keuntungan dari model ini adalah bahwa penambahan kemampuan fungsional akan lebih mudah diuji, diverifikasi, dan divalidasi dan dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki sistem. Model incremental merupakan model continous rapid prototype dengan durasi yang diperpanjang hingga akhir proses pengembangan. Pada model prototipe biasa, prototipe hanya dibuat pada tahap awal untuk mendapatkan kebutuhan user.

CR management --> untuk menentukan berapa main desk.
Contoh: coding selama 4 bulan --> 4 x 20 hari kerja = 80 hari kerja.
80 hari kerja ini dilakukan oleh 2 orang, maka ada 80 x 2 = 160 main desk.
Jadi, dibutuhkan 160 orang per hari untuk menyelesaikan coding tersebut.

Bagaimana designer's product dapat dibaca oleh programmer?
Menggunakan RUP (Rational Unified Process) yang biasanya berupa UML. Hasilnya bisa berupa use case sampai sequence diagram.
Berdasarkan www.whatis.com, RUP membentuk empat tahap pembangunan, masing-masing yang diatur dalam sejumlah terpisah Iterasi yang harus memenuhi kriteria yang ditetapkan sebelum tahap berikutnya dilakukan: dalam tahap permulaan, developer menetapkan lingkup dari proyek dan bisnis kasus; di tahap elaborasi, developer proyek menganalisa kebutuhan secara lebih detail dan menetapkan nya arsitektur dasar; dalam tahap konstruksi, developer membuat aplikasi desain dan source code, dan dalam tahap transisi, developer deliver system ke penggunanya.

Dokumen SRS :
- data dictionary bisa dimasukkan, seperti database design.
Data dictionary menurut wikipedia, merupakan sekumpulan informasi tentang data seperti relationship dengan data lainnya, penggunaannya, original, dan formatnya. Dan istilah ini menyangkut dengan database dan sistem manajemen database (DBMS). Merupakan dokumen yang menjelaskan database, komponen dari DBMS yang diperlukan untuk menentukan struktur.

- content : semua yang berhubungan dengan requirement dan spesification

- template: free format tetapi mencakup semua content nya.

- tujuan : mengkonsolidasi requirement user ke vendor.

- bisa dimasukkan untuk capacity planning, merupakan proses penentuan kapasitas produksi yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi untuk memenuhi permintaan untuk produknya. Tujuan adanya capacity planning adalah meminimalkan ketidakcocokan antara kapasitas developer dan kebutuhan user. Proses penentuan kapasitas in bervariasi bergantung pada perubahan yang ada dalam hasil produksi, apakah mengalami peningkatan atau penurunan dalam jumlah produksi atau membuat produk baru.


No comments: